Menikah bukanlah suatu perkara yang mudah. Membutuhkan kesiapan materi dan non materi. Berbicara tentang perkara jodoh. Jodoh bukan sekedar dicari, melainkan harus dijemput. Menjemput jodoh mengindikasikan kekuatan mental 100% bersatu-padu dengan kekuatan psiko-spiritual-motorik yang juga 100%. Hasil dari ikhtiar yang maksimal tersebut adalah dengan datangnya jodoh kita insyaAllah.
Hasil sharing pendapat dengan beberapa teman, tentang kriteria calon pendamping hidup berkeluarga dari pria kalangan aktivis dakwah yang belum menikah : cantik fisik (tidak sedikit berharap berpenampilan seperti artis); pintar/cerdas (indikator dari latar belakang pendidikan, ada yang secara spesifik minta dari lulusan PTN ternama); usia yang lebih muda; taat pada perintah suami (memang sudah jadi pakem berkeluarga, tetapi banyak kalangan calon suami takut kalau dapat istri yang suka melawan perintah suaminya); selebihnya relatif menyesuaikan dengan kriteria dari orang tua. Begitulah secara umum kriteria calon istri dari beberapa hasil sharing dengan teman.
Kita mulai pembahasan yang menarik tentang kriteria calon isteri yang sudah dipaparkan diatas :
1. Cantik (Good Looking). Salah satu dari empat kriteria memilih calon isteri dari Rasululloh SAW. Ada yang bilang kalau cantik itu relatif , tapi kalau jelek itu mutlak
. Berikut ada kutipan menarik dari blog sebelah, yang membuktikan bahwa definisi cantik seorang wanita itu tidak hanya dilihat dari aspek fisik semata :
” Malu karena Allah adalah perona pipinya…..Penghias rambutnya adalah jilbab yang terulur sampai dadanya…..Zikir yang senantiasa membasahi bibir adalah lipstiknya……Kacamatanya adalah penglihatan yang terhindar dari maksiat……Air wudhu adalah bedaknya untuk cahaya di akherat….Kaki indahnya selalu menghadiri majelis ilmu……Tanganya selalu berbuat baik pada sesama….Pendengaran yang ma’ruf adalah anting muslimah…..Gelangnya adalah tawadhu…..Kalungnya adalah kesucian “
2. Pintar atau cerdas. Indikator terukurnya untuk jaman sekarang , dari lulusan PTN ternama. Untuk dapat bersekolah tinggi adalah perkara masalah kesempatan, tidak semua wanita yang ditakdirkan oleh Allah mempunyai bakat pintar dapat bersekolah tinggi. Karena di negeri ini berlaku rahasia umum, bahwa semakin tinggi sekolahnya, semakin tinggi pula kemampuan materi seseorang. Bagaimana dengan wanita sholehah yang cerdas tapi tidak mampu secara materi ?.
3. Usia yang lebih muda. Cukup menjadi pembahasan yang menarik dikalangan pria muslim. Kita mulai dari bagaimana RasululLah SAW berwasiat tentang masalah yang satu ini kepada salah seorang sahabat. Rasulullah bertanya kepada Jabir ra :
“Mengapa tidak menikah dengan seorang gadis yang bisa engkau cumbu dan bisa mencumbuimu” (Riwayat Bukhari dan Muslim)
jawaban dari seorang Jabir ra, “Wahai Rasulullah, saya memiliki saudara-saudara perempuan yang berjiwa keras, saya tidak mau membawa yang keras juga kepada mereka. janda ini saya harapkan mampu menyelesaikan permasalahan tersebut.” kata Jabir “benar katamu” jawab Nabi saw.
Jabir tidak hanya berfikir untuk kesenangan dirinya sendiri. Ia bisa memilih seorang gadis perawan yang cantik dan muda belia. Namun ia memiliki kepekaan dakwah yang amat tinggi. kemaslahatan menikahi janda tersebut lebih tinggi dalam pandangan Jabir, dibandingkan dengan menikahi gadis perawan.
Cermin saat ini : faktor usia menjadi sebuah dilema, ketika ditemukan realitas bahwa banyak kalangan wanita muslimah (aktivis dakwah) yang usianya sudah semakin bertambah, tapi belum kunjung datang jodohnya. Lalu siapakah yang mau menjadi calon suaminya , kalau semua pria sholeh memiliki kriteria calon isteri yang usianya lebih muda dari dia. Kebahagian berkeluarga apakah tergantung faktor usia ?….., bahagia atau tidak tergantung kesiapan dan kematangan pasangan untuk mengarungi bahtera hidup berkeluarga. Maka carilah calon yang siap untuk menikah.
4. Ketaatan seorang isteri kepada suami. Masalah ketaatan seorang isteri kepada suami sudah jelas dalilnya. Yang cukup membuat lucu, ada fenomena beberapa kalangan calon suami yang ingin menguji ketaatan calon isterinya dengan pertanyaan : siapkah anda kalau jadi isteri saya nanti untuk dipoligami ?. Menikah saja belum, sudah mengeluarkan pertanyaan yang masih harus dibuktikan dengan waktu. Jawabannya kembali ke persepsi masing-masing, yang jelas jangan sampai menafikan perintah Allah SWT.
Kesimpulan sementara dari pengalaman : ingatlah khususnya kepada calon suami yang sedang mencari dan menjemput jodohnya , bahwa tidak semua keinginan yang kita mau dapat terwujud, karena Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Jadi bersikaplah sebagai seorang pria yang bijaksana yang melihat hidup ini bukan hanya untuk diri kita sendiri, melainkan untuk ibadah kepada Allah SWT. Jadi terimalah apapun yang telah Allah pilihkan untuk kita…., itu adalah yang terbaik untuk hamba-NYa. bersambung (rck)
Komentar Terakhir