Pesan Persaudaraan dan Perjuangan

29 06 2008

Jika mencinta janganlah berlebihan, begitupula dalam membenci…, karena kita tidak tahu apa yang akan terjadi di waktu yang akan datang. Janganlah hidup dibawah bayang-bayang masa lalu.  Persahabatan dan persaudaraan adalah abadi jika dilandasi keikhlasan. Semoga Allah mempertemukanku dan saudara-saudara seperjuangan dalam waktu, kondisi, dan tempat yang lebih baik… tetap tersenyum dan terus berjuang li ‘ila li kalimatilLaah mardhotilLah !!!

Pesan perjuangan setelah memutar setir kendaraan perjuangan untuk yang kesekian kali….

Afwaminkum Lahir-Batin ikhwati filLaah…

al faqir RCK





Belajar Mencintai

14 05 2008

Belajar mencintai…. bukanlah pekerjaan yang mudah

Belajar menuntut keseriusan, menuntut kesungguhan, dan menuntut kesabaran….

Mencintai menuntut pengorbanan, menuntut pengertian, dan menuntut kasih sayang…..

Belajar mencintai semua yang telah Allah anugerahkan pada kita, terkadang menuntut mendapatkan lebih, tetapi sesungguhnya tak layak mendapatkan apapun karena tak sebanding dengan yang telah diberi. Semua rezeki sejatinya adalah nikmat sekaligus beban akhirat. Semua kelak akan dipertanggung-jawabkan.

lainsyakartum la azidannakum…, wa lain kafartum inna ‘adzaabi la syadid..

Percayalah bahwa tak ada yang sia-sia atas segala pengertian dan kesabarannya melewati semua bersama, walau dengan segala fitrah dan kondisi yang kurang… always together





Hari Kemenangan, 6 April 2008

8 04 2008

BarokalLaahulakuma wa baroka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khoir

Allah Swt, Maha tahu apa yang hamba-Nya butuhkan, karena tidak semua yang hamba-Nya inginkan dapat terwujud, tetapi Ia Maha Pemberi apa yang dibutuhkan oleh hamba-NYa. AlhamdulilLah… :)





Harus jadi orang kaya

3 04 2008

Kasihan bener jadi orang miskin. Semua serba sulit, tidak punya kemampuan untuk menyesuaikan dengan tuntutan lingkungan. Ketika datang tuntutan kebutuhan hidup pribadi maupun keluarga, sudah dapat dipastikan tinggal pasrah dengan nasib. Karena biasanya salah satu sifat orang miskin itu berpikir jangka pendek, sulit untuk berpikir rencana dan target jangka panjang. Bahkan kalau ditanya apa sebetulnya kebutuhan hidup diri dia dan keluarga , juga bingung membedakan mana kebutuhan dan mana yang keinginan.

Tertegun dan empati melihat kondisi salah seorang tetangga yang tergolong keluarga muda dengan hidup yang serba kekurangan. Suaminya cuma kerja bantu2 jadi marbot musholla yang dapat honor 300rb/bulan, istrinya di rumah, dengan tanggungan anak 2 orang ( 3 dan 5 tahun). Sebelumnya si suami kerja juga jadi satpam komplek, tapi habis itu mengundurkan diri, dan sekarang lebih banyak nganggur dan cari pelarian main togel. Na’udzubillah rajin bantu2 musholla jadi muadzin dan sholat jamaah tapi main judi. Alasannya buat untung2an cari uang tambahan keluarga. Belum lama ini, istrinya jatuh sakit keras (Diabetes kronis dan liver, 2 penyakit yang saling kontradiktif pengobatannya) di bawa ke banyak rumah sakit tapi di tolak karena tingkat penyakitnya sudah parah, dan harus dibawa ke rumah sakit khusus dengan alat medis yang memadai. Karena kemampuan ekonomi yang sangat kurang, akhirnya masuk ke rumah sakit Polri. setelah sebelumnya mengurus surat keterangan keluarga miskin. Ternyata surat keterangan miskin itu betul-betul sangat ironis, yang pertama hanya berlaku untuk 3 hari dan harus terus diperpanjang selama sakit, kedua kalau belum sakit gak bisa dibuat, ketiga di rumah sakit berkeliaran calo surat keterangan miskin yang cari mangsa, keempat SKK miskin itu cuma bisa menutupi biaya inap saja, tapi biaya obat harus ditanggung pasien. Untuk nebus resep obat saja dalam 3 hari di rawat sudah habis 4juta-an. Ada kejadian yang sangat menyedihkan, betapa pelayanan kesehatan di rumah sakit di negeri ini sangat minim rasa kemanusiaannya. Si suami tetangga saya itu diminta menebus resep seharga 1,015 juta. tapi cuma punya uang 1juta saja di kantung, kurang 15ribu. Sama yang jaga di apotik Rumah sakit, ngotot tidak akan memberikan obat walaupun kurang 15ribu dengan ancaman kalau tidak ditebus semua, akan dipanggil polisi. AstaghfirulLah. Akhirnya ajal menjeput istrinya lebih dahulu, sehingga resep obat terakhir itu tidak jadi ditebus. Pulang membawa kesedihan yang sangat mendalam karena harus kehilangan seorang istri dan ibu bagi anak2nya yang masih kecil-kecil, serta dibayang-bayangi hutang jutaan untuk menutupi biaya obat selama dirawat.

Ada banyak sekali alasan untuk jadi orang kaya…., terus berjuang karena Allah tidak akan merubah keadaan suatu kaum, kalo kaum itu tidak merubah keadaan dirinya sendiri !!!





Haru bercampur bahagia, masih ada yg berdo’a untuk saya

25 03 2008

Layak untuk diabadikan di blog sederhana ini, kutipan sms do’a dari salah seorang saudari:

” Saya yakin, ia adalah akhwat yang luar biasa. Dan jika ikhwan itu yang Allah pilihkan untuknya. Ikhwan itu pastilah juga luar biasa. Saudaraku, satu fase dalam hidup akan segera kau jalani. Peran baru dalam hidup akan segera kau masuki. Berikanlah yang terbaik untuk peran itu. Maka saudaraku, saat awal amanah dan peran baru kau emban, saat sebuah kalimat mengguncangkan arsy diucapkan, di detik it, doaku mengalun ” BarakalLahu laka wa baroka ‘alaika wa jama’a bainakuma fii khoir

Luar biasa berkesan :)





Perlahan tapi pasti….. tinggal menghitung hari

16 03 2008

married.jpg

Semakin hari, tidak semakin mudah. Apalagi jika jalan yang dilalui adalah jalan yang mendaki dan terjal. Ditambah beban di pundak semakin bertambah, hingga saatnya tiba beban ini dipikul berdua. Jika niat ini tulus dan ikhlas, Allahpun Maha mendengar do’a dan pinta hamba-Nya. Tatkala do’a itu terkabul, tak ada satupun aral melintang yang dapat menghadangnya. SubhanalLah itulah kekuatan sejati do’a seorang hamba Allah. Jangan jadi orang yang pelit tuk berdo’a. Perkara terkabulnya do’a tinggal bicara masalah kapan waktu yang tepat.

Perjalanan do’a yang selama dua tahun lebih lamanya tetap istiqomah dipanjatkan,

” Yaa Allah berikan kepada hamba-Mu ini jodoh pasangan hidup yang terbaik bagi-Mu… , terbaik untuk menyempurnakan agama hamba, terbaik tuk menjadi seorang ibu yang baik bagi anak-anak hamba nanti, dan terbaik untuk menjadi seorang wanita sholehah yang bermanfaat bagi ummat.”

Kabul dan sempurnakanlah yaa Allah rabb yang Maha menggenggam jiwa-jiwa manusia, atas perjalanan akhir do’a hamba-Mu ini. Aaamiiin (rck)





Bagi pria : siapa jodoh kita ? (Part 1)

13 03 2008

Menikah bukanlah suatu perkara yang mudah. Membutuhkan kesiapan materi dan non materi. Berbicara tentang perkara jodoh. Jodoh bukan sekedar dicari, melainkan harus dijemput. Menjemput jodoh mengindikasikan kekuatan mental 100% bersatu-padu dengan kekuatan psiko-spiritual-motorik yang juga 100%. Hasil dari ikhtiar yang maksimal tersebut adalah dengan datangnya jodoh kita insyaAllah.

Hasil sharing pendapat dengan beberapa teman, tentang kriteria calon pendamping hidup berkeluarga dari pria kalangan aktivis dakwah yang belum menikah : cantik fisik (tidak sedikit berharap berpenampilan seperti artis); pintar/cerdas (indikator dari latar belakang pendidikan, ada yang secara spesifik minta dari lulusan PTN ternama); usia yang lebih muda; taat pada perintah suami (memang sudah jadi pakem berkeluarga, tetapi banyak kalangan calon suami takut kalau dapat istri yang suka melawan perintah suaminya); selebihnya relatif menyesuaikan dengan kriteria dari orang tua. Begitulah secara umum kriteria calon istri dari beberapa hasil sharing dengan teman.

Kita mulai pembahasan yang menarik tentang kriteria calon isteri yang sudah dipaparkan diatas :

1. Cantik (Good Looking). Salah satu dari empat kriteria memilih calon isteri dari Rasululloh SAW. Ada yang bilang kalau cantik itu relatif , tapi kalau jelek itu mutlak :D . Berikut ada kutipan menarik dari blog sebelah, yang membuktikan bahwa definisi cantik seorang wanita itu tidak hanya dilihat dari aspek fisik semata :

” Malu karena Allah adalah perona pipinya…..Penghias rambutnya adalah jilbab yang terulur sampai dadanya…..Zikir yang senantiasa membasahi bibir adalah lipstiknya……Kacamatanya adalah penglihatan yang terhindar dari maksiat……Air wudhu adalah bedaknya untuk cahaya di akherat….Kaki indahnya selalu menghadiri majelis ilmu……Tanganya selalu berbuat baik pada sesama….Pendengaran yang ma’ruf adalah anting muslimah…..Gelangnya adalah tawadhu…..Kalungnya adalah kesucian “

2. Pintar atau cerdas. Indikator terukurnya untuk jaman sekarang , dari lulusan PTN ternama. Untuk dapat bersekolah tinggi adalah perkara masalah kesempatan, tidak semua wanita yang ditakdirkan oleh Allah mempunyai bakat pintar dapat bersekolah tinggi. Karena di negeri ini berlaku rahasia umum, bahwa semakin tinggi sekolahnya, semakin tinggi pula kemampuan materi seseorang. Bagaimana dengan wanita sholehah yang cerdas tapi tidak mampu secara materi ?.

3. Usia yang lebih muda. Cukup menjadi pembahasan yang menarik dikalangan pria muslim. Kita mulai dari bagaimana RasululLah SAW berwasiat tentang masalah yang satu ini kepada salah seorang sahabat. Rasulullah bertanya kepada Jabir ra :

“Mengapa tidak menikah dengan seorang gadis yang bisa engkau cumbu dan bisa mencumbuimu” (Riwayat Bukhari dan Muslim)

jawaban dari seorang Jabir ra, “Wahai Rasulullah, saya memiliki saudara-saudara perempuan yang berjiwa keras, saya tidak mau membawa yang keras juga kepada mereka. janda ini saya harapkan mampu menyelesaikan permasalahan tersebut.” kata Jabir “benar katamu” jawab Nabi saw.

Jabir tidak hanya berfikir untuk kesenangan dirinya sendiri. Ia bisa memilih seorang gadis perawan yang cantik dan muda belia. Namun ia memiliki kepekaan dakwah yang amat tinggi. kemaslahatan menikahi janda tersebut lebih tinggi dalam pandangan Jabir, dibandingkan dengan menikahi gadis perawan.

Cermin saat ini : faktor usia menjadi sebuah dilema, ketika ditemukan realitas bahwa banyak kalangan wanita muslimah (aktivis dakwah) yang usianya sudah semakin bertambah, tapi belum kunjung datang jodohnya. Lalu siapakah yang mau menjadi calon suaminya , kalau semua pria sholeh memiliki kriteria calon isteri yang usianya lebih muda dari dia. Kebahagian berkeluarga apakah tergantung faktor usia ?….., bahagia atau tidak tergantung kesiapan dan kematangan pasangan untuk mengarungi bahtera hidup berkeluarga. Maka carilah calon yang siap untuk menikah.

4. Ketaatan seorang isteri kepada suami. Masalah ketaatan seorang isteri kepada suami sudah jelas dalilnya. Yang cukup membuat lucu, ada fenomena beberapa kalangan calon suami yang ingin menguji ketaatan calon isterinya dengan pertanyaan : siapkah anda kalau jadi isteri saya nanti untuk dipoligami ?. Menikah saja belum, sudah mengeluarkan pertanyaan yang masih harus dibuktikan dengan waktu. Jawabannya kembali ke persepsi masing-masing, yang jelas jangan sampai menafikan perintah Allah SWT.

Kesimpulan sementara dari pengalaman  : ingatlah khususnya kepada calon suami yang sedang mencari dan menjemput jodohnya , bahwa tidak semua keinginan yang kita mau dapat terwujud, karena Allah lebih mengetahui apa yang terbaik untuk kita. Jadi bersikaplah sebagai seorang pria yang bijaksana yang melihat hidup ini bukan hanya untuk diri kita sendiri, melainkan untuk ibadah kepada Allah SWT. Jadi terimalah apapun yang telah Allah pilihkan untuk kita…., itu adalah yang terbaik untuk hamba-NYa. bersambung (rck)





Tips Komunikasi Efektif

31 01 2008

 Bagaimana perasaan anda jika orang yang sedang anda ajak bicara, asyik sibuk mengerjakan sesuatu tanpa menghiraukan anda yang sedang berbicara. Sebagai contoh : teman anda sedang asyik chatting didepan komputer, anda mengajaknya berbicara tetapi ia menjawab pertanyaan anda tanpa menatap wajah anda, dan hanya fokus melihat layar monitor. Secara adab, benar-benar tidak sopan. Siapapun yang mengajak bicara, jika diperlakukan demikian pasti akan sakit hati. Bagaimana sebetulnya cara berkomunikasi yang efektif, menarik, dan mengundang simpati orang yang diajak berbicara ?. Ada sedikit tip’s keterampilan dalam berbicara kepada seseorang secara one by one.

Rumusnya : SOLER communication

  • Face other Squarelly : Hadapi lawan bicara anda dengan ramah dan penuh perhatian.  
  • Open postures : Tubuh dalam posisi terbuka ;
  • Lean : Condong kepada lawan bicara anda;
  • Keep good Eye contact : Lihat matanya, jangan melihat ketempat lain.
  • Relax position : Posisi santai, tidak kaku.

Beberapa kebiasaan buruk bagi yang mengajak berbicara maupun bagi yang diajak berbicara :

  1. Asyik sibuk bermain ballpoint, atau sesuatu dengan jari-jemari kita ketika berbicara;
  2. Tidak menatap mata lawan bicara;
  3. Menggunakan bahasa yang hanya kita sendiri yang mengerti.
  4. Bersendawa;
  5. Merokok;
  6. Buang angin;
  7. Mengangkat kaki ke arah lawan bicara;
  8. Makan sendirian tanpa menawari orang yang diajak bicara.

Kesimpulannya : Sikap orang lain kepada anda bergantung pada bagaimana anda memperlakukan diri anda dihadapan orang lain. Anda sopan kamipun segan. Anda jual, kami beli.  Semoga bermanfaat. (rck)





Manusia Makhluk Materi

21 01 2008

Ada pembelajaran bagus untuk kita ambil dari momen Pilkada. Pada saat dilaksanakannya kampanye secara terbuka, setiap kandidat saling berlomba-lomba memperkenalkan diri dan program yang akan dilaksanakan jika terpilih nanti. Salah satu yang cukup menyita perhatian adalah, cukup mencoloknya persaingan dalam hal publikasi dalam bentuk poster; spanduk, dan baliho. Karena asumsinya : Semakin besar dan banyak jenis publikasi yang dimiliki oleh calon kandidat, semakin besar popularitas calon dimata pemilih. Maka tidak heran jika besarnya uang yang dikeluarkan oleh kandidat untuk mempubilkasikan dirinya, tidak tanggung-tanggung besarnya. Besarnya biaya tidak hanya untuk pembuatan alat peraga, tetapi juga untuk alokasi faktor lain (seperti : biaya pasang dan keamanan) yang cukup besar pula jumlahnya. Salah satu kasus yang cukup sensitif dan ramai didekat rumah saya, ada salah satu kandidat yang memasang Baliho berukuran 3×4 meter didepan tempat parkir pertokoaan dekat jalan raya. Ada oknum masyarakat yang mengaku sebagai ‘orang keamanan’ yang meminta biaya keamanan baliho kepada tim sukses, sebesar lima juta rupiah. Padahal dalam waktu kampanye terbuka, setiap kandidat diijinkan memasang alat peraga ditempat umum yang diperbolehkan tanpa membayar retribusi/pajak kepada Pemda. Yang cukup membuat miris adalah, biaya pembuatan balihonya saja tidak lebih dari seperlima biaya oknum keamanan. Sampai oknum tersebut bilang : “ Jangan maju jadi walikota, kalau tidak siap bagi-bagi duit !”, dan ternyata pemahaman banyak masyarakat awam kita seperti itu pula. Ada uang abang disayang, kalau tidak ada uang abang dibuang.

Bagaimana momen Pilkada atau Pemilu dapat menjadi pembelajaran kehidupan berdemokrasi, kalau sebagian besar masyarakat kita menilai semua kegiatan kampanye dengan uang. Sampai untuk menggunakan hak pilih yang hanya dimiliki oleh setiap warga dengan rahasia, bisa dibeli dengan uang. Pantas saja jika yang namanya money politic sulit untuk diberantas. Karena dimasyarakat kita berlaku hukum ekonomi : jika ada permintaan, maka ada penjualan. Pesan moral : Ambil uangnya, jangan pilih orang yang memberi.

Pada hakikatnya manusia memang makhluk yang tidak dapat dipisahkan dari sisi materi. Baik itu secara jasad (fisik) maupun materi kebutuhan hidup (sandang, pangan, dan papan). Dan ukuran yang paling mudah untuk menilai besarnya jasa seseorang adalah dengan ukuran besarnya balasan materi yang akan didapatkan. Yang menjadi permasalahan bukan karena orientasi manusia pada materi. Menurut saya, yang tidak pada tempatnya adalah salahnya kita untuk menyikapi cara mendapatkan hasil materi. Banyak dari kita yang masih saja menggunakan prinsip ekonomi yang bagi saya bisa menyesatkan : dengan pengorbanan sekecil-kecilnya dapat hasil sebesar-besarnya. Justru pada prakteknya dilapangan, prinsip ini menimbulkan masalah, berapa banyak orang yang minim kerjanya, atau bahkan tidak ada upaya sama sekali, tetapi ingin dapat penghargaan seperti orang berprestasi yang telah bekerja keras. Sehingga keluar pernyataan yang sering dipakai untuk oknum anggota dewan atau pegawai pemerintah dengan julukan : makan gaji buta. Tidak cukup dengan makan gaji buta, tambah lagi dengan makan uang negara.

Penyikapan yang benar seperti pesan salah satu motivator bisnis terkemuka di Indonesia :
“ Terima dengan ikhlas semua yang kita dapatkan dari hasil jerih payah kita, dan pastikan bahwa jika saatnya tiba nanti kita mendapatkan hasil yang layak, kita pasti ada disana.” . Kesimpulannya : biarkan Allah Swt, dan orang-orang beriman yang akan menilai hasil kerja dari amal kita. Dan ikhlaskan dari hati kita agar mendapatkan balasan yang tiada gantinya dari Allah Swt. (rck)