Gak percuma punya istri yang berprofesi sebagai guru bimbingan konseling. Pikir saya setelah banyak sekali mendengar cerita tentang kehidupan anak-anak muridnya. Malam ini akumulasi cerita itu makin numpuk, saking numpuknya sampai bikin ngantuk dengernya..he..he..
. Tapi alhamdulillah ngantuk itu gak sia-sia, karena tercetus ide untuk di share dengan orang lain , so…. saya coba tuangkan di Weblog ini semoga bermanfaat bagi orang lain, dan khususnya menjadi dokumentasi pribadi.
Pagi ini tidak sengaja nonton acara tv infotainment (astaghfirulLah cukup sekali-kali aja cari hikmahnya…. khawatir dosa nonton ghibah), nonton kasusnya artis Rico Ceper yang pacaran dengan seorang gadis remaja berusia 16 tahun yang konflik dengan orang tuanya yg tidak merestui hubungan pacaran anaknya. Istri selesai menyaksikan liputan berita itu, berkomentar : ” begitulah akibat ekspektasi orang tua yang sangat besar pada anaknya yang pertama (sulung)”. Dan kasus itu nyambung sama obrolan santai kami berdua tentang banyak kasus anak-anak SDIT ditempat istri mengajar yang ternyata punya modus kasus sama, tapi varian yang berbeda.
Berikut beberapa kasus yang punya modus sama dengan kasus Rico Ceper (lebih tepatnya fokus pada masalah pacarnya “Achy”). Ternyata banyak kasus anak yang mengalami permasalahan di sekolah hingga dipanggil orang tuanya, yang sama adalah dialami oleh anak sulung di keluarganya. Lebih tepatnya pada masalah akhlaq perilaku si anak yang kurang baik, seperti suka ngamuk kalau marah, gengsi tidak mau meminta tolong dan bergaul dengan teman-temannya, tetapi anak itu tergolong anak yang pintar. Ada guru yang tidak sanggup menangani anak itu kalau sedang muncul “sakitnya”, jadi akhirnya guru BK harus turun tangan langsung. Dan yang unik ternyata “sakitnya” si anak itu bisa diredam kalau disikapi dengan cara yang benar. Kebanyakan masalah orang lain , termasuk guru dan orang tua salah bersikap pada si anak sehingga muncul masalah yang berkelanjutan. Masalah si anak itu sebetulnya sama dialami oleh semua anak baik sulung, tengah , atau bungsu. Hanya saja beberapa anak yang istimewa punya potensi muncul permasalahan akhlaq yang tidak baik dan ramah, karena pola asuh atau ekspektasi orang tua yang berlebih pada anak sulung. Sehingga si anak sulung berusaha melampiaskan rasa ketidak-cocokan dengan sikap orang tuanya kepada orang lain. Dan tentunya dengan caranya si anak sendiri, yang sering membuat heboh teman-teman dan orang lain disekitarnya.
Introspeksi buat para orang tua bahwa anak itu butuh dimengerti, karena setiap anak itu unik, maka perlu di sikapi dengan cara yang unik pula sesuai karakter si anak. Jangan korbankan potensi besar yang dimilikinya dengan memaksakan kehendak orang tua yang bertentangan dengan keinginan anak. WalLaahu ‘alam.
(by : rck. source : Litawati siti Azizah, S.Psi – my wife )

al-ikhwan
Izzudin al Qassam – HAMAS
rumah_sehat_herba
















Komentar Terakhir