Tidak seperti biasanya, pagi hari itu semua agenda diluar rumah dicancel, hanya untuk satu alasan besar dan mendasar. Juga tidak seperti biasa, lebih merapat ke tujuan hidup (mengutip istilah teman) dan berbakti kepada kedua orang tua.
Dahulu kami adalah seorang anak yang mudah sekali sakit, dan tidak ada yang dapat memberikan bantuan dengan tulus merawat selain orang tua. Ibu yang dengan susah payah , menjaga, serta membantu makan & minum obat. Ayah yang tak mengeluh membantu memberi semangat sampai memijat tubuh ini yang sakit.
Tidak terasa saatnya telah tiba, kondisi dahulu yang penuh kenangan kini berbalik. Semua beban kini harus dipikul sendiri, dan tak luput harus membalas jasa baik kedua orang tua dahulu. Ayah yang terbaring sakit sedang disayang Allah, tak dapat berbuat banyak karena kini secara fisik harus bergantung pada Ibu dan orang lain yang berada disekitarnya. Kebergantungan kini berbalik dibanding dahulu. Mengeluh karena dibebani oleh sakitnya orang tua ?…, na’udzubilLah min dzalik kalau sampai terlintas dalam pikiran kita. Karena justru keberuntungan bagi seorang anak yang dititipkan amanah oleh Allah, menjadi momentum untuk membalas jasa baik kedua orang tuanya.
Kini tiba saatnya mempraktekkan ilmu yang pernah didapatkan : “birrul walidain – berbakti kepada orang tua”.
Dari Ibnu Mas’ud ra , Rasululloh bersabda, ” Amal yang paling utama :Sholat (di awal) pada waktunya; berbakti kepada kedua orang tua; dan jihad di jalan Allah.” (HR. Bukhori Muslim)
Rasa harap bercampur sedih secara manusiawi, mengagumi kesabaran dan ketegaran seorang Ibu yang selama tiga tahun lamanya bersabar dan dengan telaten merawat Ayah. Tidak mengeluh kecuali kepada-Nya, dalam sholat fardhu dan sholat malamnya Tetapi tidak pernah lupa memperhatikan kebutuhan dan membantu kesulitan anak-anaknya.
Diri ini berusaha menyempatkan diri tuk meringankan beban kedua orang tua, tetapi sadarlah bahwa sebesar apapun usaha kita, tak akan pernah dapat membalas jasa keduanya sampai kapanpun juga.
Ba’da sholat dhuha’, teriring do’a untuk keduanya yang juga dilakukan setiap saat, “Yaa Allah ampunilah kesalahan hamba dan kedua orang tuaku. Sayangilah mereka, sebagaimana mereka menyayangiku sewaktu kecil. Aaamiin“
Di sempurnakan dengan membaca dan mentadabburi ‘Surat Cinta’ dari Rabbku.
“Fabiayyi alaa i robbikuma tukadzzibaan “
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan ?” (QS. Ar Rahman)
Selesai membaca surat Ar Rahman, kemudian mentadabburi isinya, tersurat hikmah : Rabb kita bertanya kepada hambanya sebanyak 31 kali dari 78ayat yang terdapat didalamnya (SubhanalLah…) : Berapa banyak nikmat Allah yang telah kita dustakan ?. Karena ternyata manusia adalah makhluk yang lalai, sehingga harus selalu diingatkan, dan tidak cukup hanya sekali diingatkan. Termasuk nikmat masih memiliki orang tua yang masih hidup.
Hikmah : Keluarga kita tidak butuh hanya kualitas perhatian dari kita, tetapi akan jauh lebih bermakna jika kuantitas pun terlaksana. Dan yang menentukan kuantitas dari perhatian adalah kembali ke diri kita masing-masing. Manusia bisa berencana dan berikhtiar 99%, dan 1% yang menentukan kembali kepada keikhlasan kita menerima segala ketentuan dari Allah Swt. Jadi… yang namanya ikhtiar tetap-kudu-harus dijalankan. Memberikan dengan optimal apa yang terbaik dapat kita berikan.
Masih berani menunda apalagi melupakan jasa baik kedua orang tua kita ?…., dengan berbagai dalih karena kesibukan kita mencari rezeki. Mau jatuh kedalam dosa besar dengan bekal rezeki yang tidak berkah…?, karena durhaka kepada kedua orang tua. Tunggu apalagi, mulai dari sekarang juga action!… berbakti kepada kedua orang tua kita.(rck)
al-ikhwan
Izzudin al Qassam – HAMAS
rumah_sehat_herba
















Komentar Terakhir