‘Surat Cinta’ diatas Segala Cinta

29 12 2007

‘Surat Cinta’ku ini memiliki berbagai macam nama panggilan. Dapat disebut dengan nama hudan (petunjuk); rahmatan (rahmat); nur (cahaya); syifa’ (obat),dan nama-nama indah lainnya. Setiap nama merupakan kesaksian atas segala keistimewaan yang dimiliki oleh ‘Surat Cinta’ku ini. Pada kesempatan ini, perkenankan seorang pembelajar ikut berbagi kepada saudara/i ku sekalian tentang keistimewaan akan ‘Surat Cinta’ diatas segala cinta ini…

Teringat pengalaman bersama adik-adik kelas waktu di SMA dahulu, ketika awal memulai pengajian. Kami masing-masing saling bergantian membaca ‘Surat Cinta’. Ada yang membacanya dengan lancar, dan ada juga yang membaca dengan terbata-bata. Sedih benar ketika melihat anak muda saat itu yang sudah beranjak dewasa, tetapi untuk sekedar membaca ‘Surat Cinta’ saja sulit sampai ada yang gugup hingga keluar keringat dingin. Padahal kenyataannya mereka berasal dari keluarga yang terdidik dan mampu, tapi tidak mampu untuk yang satu hal tersebut. Terlintas dalam ingatan saya untuk berbagi kisah dari buku biografi seorang pahlawan di negeri para anbiya. Namanya adalah Izzudin al Qassam (saat ini namanya digunakan sebagai nama sayap militer organisasi perjuangan HAMAS di Palestina). Saya ceritakan kepada adik-adik tentang kisah heroik seorang pahlawan dari negeri anbiya tersebut. Ia adalah seorang panglima jihad saat berjuang melawan penjajah zionis. Walaupun usianya telah lanjut, akan tetapi tetap gagah berani memimpin perjuangan digaris terdepan, sehingga para pejuang muda banyak yang tergugah dan meneladani keberaniannya.

Kisahnya saat Izzudin al Qassam tiba pada saatnya untuk kembali kehariban-Nya, suatu ketika ia dan beberapa prajuritnya terkepung disudut kota oleh beberapa pasukan zionis bersenjata lengkap. Tentara zionis itu mendesak kepada Izzudin yang tinggal seorang diri untuk menyerah, setelah sebelumnya membunuh pejuang palestina lainnya. Sungguh luar biasa kualitas seorang pahlawan sejati, dalam kondisi yang sangat terjepit tidak ada ekspresi maupun rasa gentar sedikitpun atas ancaman dibawah todongan laras senapan tentara zionis. Izzudin al Qassam kemudian mengeluarkan ‘Surat Cinta’ yang ada di sakunya, dan diperlihatkan kepada tentara zionis yang keji tersebut, sembari mengatakan beberapa kalimat yang melegenda hingga detik ini, dan menjadi spirit perjuangan semua rakyat palestina untuk merdeka. Pesannya adalah : ” Wahai para tentara penjajah zionis, ketahuilah bahwa selama rakyat Palestina masih memiliki ‘Surat Cinta’ ini maka selama itulah perjuangan menentang penjajahan zionis yahudi akan tetap ada, walaupun saya harus mati ditembak peluru kalian.” Dan memang terbukti bahwa, ‘Surat Cinta’ yang disebutkan dapat menggerakkan seluruh rakyat Palestina untuk melawan, sepeninggal seorang pahlawan Izzudin al Qassam, kemudian lahir puluhan, ratusan, ribuan, bahkan jutaan Izzudin lainnya yang setiap saat selalu mengancam eksistensi penjajah Zionis-Israel. Allahu Akbar !!!

Terlepas dari kisah heroik dan mengharukan diatas. Ada kesaksian lain dari seorang sahabat ketika kuliah dahulu. Ia berkata bahwa untuk membaca satu halaman dari surat cintaku ini terasa berat sekali. Jangankan untuk membaca, sekedar pegang saja sudah banyak sekali rintangannya. Akan tetapi jika sudah masuk membaca ke halaman dua; tiga; dan berikutnya…, dijamin pasti ketagihan. Sebegitu hebatkah ‘Surat Cinta’ ini ?…., sungguh rahasianya jauh lebih besar dan bukan terletak pada wujud fisiknya.

Saya berpikir mendalam bahwa ‘Surat Cinta’ku ini, bukanlah sembarang surat cinta biasa. Karena didalamnya terkandung rahasia kehidupan yang sangat luar biasa. Terukir indah dalam sejarah, bagaimana lantunan bacaan dari surat cintaku ini dapat merubah 180 derajat keyakinan seorang Umar bin Khattab ra yang terkenal paling ditakuti saat masa jahiliyah. Ia mengakui didalamnya berisi untaian indah yang mampu menenteramkan jiwa bagi yang membaca dan mendengarnya.

Saya pikir berulang-ulang betapa menyesalnya diri ini, karena telah menelantarkan dan menganggap enteng perkara untuk sekedar membacanya saja. Betapa malunya diri ini ketika mengetahui bahwa teladan manusia sepanjang sejarah manusia saja tidak pernah menuntaskan membacanya lebih dari 30 hari. Belum lagi untuk merenungkan, memahami dan mengamalkan isinya….oooh betapa meruginya diri ini. Hanya sekedar menyempatkan 5 menit sehari saja untuk membaca… atau hanya satu kalimat saja…., bahkan hanya satu huruf saja, ada saja segudang alasan dalih untuk melupakannya. AstaghfirulLah al ‘adzim

Wahai diri sadarilah kalau dirimu selalu menimbang pekerjaan dengan neraca untung-rugi. Mana ada di dunia ini bacaan yang balasan untuk membacanya sebesar membaca ‘Surat Cinta’ku ini. Satu huruf saja dibalas dengan satu kebaikan berlipat sepuluh*. Ada belasan ribu huruf didalamnya. Berapa banyak yang akan kita dapat kalau kita mau hitung-hitungan untung-rugi ?…. SubhanalLah, ternyata betapa pelitnya diri ini.

Bagaimana mungkin ‘Surat Cinta’ dapat berbalas dengan cinta. Jika yang dititipkan ‘Surat Cinta’ tidak memiliki cinta untuk minimal sekedar membacanya saja. Kita sering mengeluh mendapatkan ujian dan cobaan bertubi-tubi, hingga keluar dari benak kita menyalahkan karena kurang mendapatkan cinta, tetapi kita tidak pernah mengevaluasi diri apakah kita sudah cinta membaca surat dari yang Maha memiliki Cinta ?

 

al-quran.jpg


Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Qur’an (bagi manusia) sebagai pelajaran, maka adakah orang-orang yang mau mengambil pelajaran?.”

(QS. 54:22)

Dari Ustman bin Affan ra, Rasululloh ShalalLahu ‘alahi wa salam bersabda : ” Sebaik-baik kamu adalah mereka yang mempelajari Al Qur’an dan mengajarkannya (kepada orang lain) “

(HR. Bukhari)

Terima kasih kepada saudari yang telah memberikan usulan pada kolom tausiyah. Semoga nasihat (‘Surat Cinta’ dari Rabbku = Al Qur’an) ini dapat menjadi obat penyembuh bagi penyakit hamba ini yang jahil dan lalai dari membalas cinta Rabbnya. Semoga do’a yang dipanjatkan oleh Nabi Adam a.s. dapat menjadi titik balik perubahan diri ini, “Rabbana dzalamna anfuusana wa inlam taghfirlana wa tarhamna lana kuunanna minal khoosirin“. Aaamiiin(rck)

*) “Barangsiapa membaca satu huruf dari kitab Allah maka baginya satu kebaikan, dan satu kebaikan itu dibalas sepuluh kali lipatnya. Aku tidak mengatakan alif lam mim itu satu huruf; tetapi alif satu huruf; lam satu huruf dan mim satu huruf. ” (HR. At-Tirmidzi, katanya: hadits hasan shahih)